Lanjut ke konten

Soal 23: Menegakkan Ribath

Menegakkan Ribath

Jumโ€™at, 04 Dzulqaโ€™dah 1441 H

๐Ÿ“ฌ PERTANYAAN

Di dalam Surat Ali โ€˜Imran [3] ayat 200 terdapat kalimat โ€˜wa rabithuโ€™, yang disandingkan bersama kata sabar. Apakah hakikat makna โ€˜wa rabithuโ€™ di sana?

๐Ÿ“‚ JAWABAN

Murabathah adalah salah satu wujud puncaknya amal kesabaran, yang di dalam Al-Qurโ€™an dan As-Sunnah, secara umum dijelaskan pada 2 (dua) bentuk amaliyah besar yakni: 1) Menjaga Wudhu dan Shalat; dan 2) Menjaga perbatasan wilayah di masa peperangan. Shalat menjadi sumber energi Mukmin dalam melahirkan amal-amal besar seperti menegakkan ribath di medan perang. Shalat dengan demikian menjadi sarana dasar peneguhan jiwa, karena selalu menjaga ikatan kepada Allah ๏ทป , sebelum melakukan amal-amal besar.

Di dalam Al-Qurโ€™an ada kata rabth dan ribฤth. Kata rabth merupakan fiโ€™il mutaโ€™addi, kata kerja yang membutuhkan objek, yang merupakan turunan dari kata ribฤth yang berarti meneguhkan, mengikat atau menjalin. Adapun kata ribฤth dari wazan mufฤโ€™alah yang menunjukkan musyarakah yang berarti bersekutu atau saling. Ada peran yang dilakukan minimal oleh dua pihak yaitu: faโ€™il (subyek) dan mafโ€™ul (objek). Rฤbith-nya (peneguhnya) adalah Allah ๏ทป, sedangkan marbลซth-nya (yang diteguhkan) adalah hati hamba-Nya.

1. Keteguhan Kalbu adalah Rahasia Sukses Ketaatan

Teguhnya orang-orang beriman yang selalu berharap peneguhan dari Allah ๏ทป, di dalam Al-Qurโ€™an diwakili oleh 3 (tiga) kisah: 1) Keteguhan 313 pasukan Badar al-Kubra menghadapi 1000 pasukan musuh; 2) Keteguhan pemuda Ashabul Kahfi melawan tirani rezim; dan 3) Keteguhan Ibu Nabi Musa a.s. dalam menjaga identitas anaknya yang berada dalam penguasaan keluarga Firโ€™aun. Ketiga kisah ini menegaskan bahwa hanya orang-orang beriman yang mampu melakukan bentuk-bentuk ketaatan seberat apapun.

a. Keteguhan Pasukan Badar al-Kubra

Allah ๏ทป berfirman dalam Surat Al-Anfal [8] ayat 11:

{ุฅูุฐู’ ูŠูุบูŽุดูู‘ูŠูƒูู…ู ุงู„ู†ูู‘ุนูŽุงุณูŽ ุฃูŽู…ูŽู†ูŽุฉู‹ ู…ูู†ู’ู‡ู ูˆูŽูŠูู†ูŽุฒูู‘ู„ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ู…ูู†ูŽ ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽุงุกู ู…ูŽุงุกู‹ ู„ููŠูุทูŽู‡ูู‘ุฑูŽูƒูู…ู’ ุจูู‡ู ูˆูŽูŠูุฐู’ู‡ูุจูŽ ุนูŽู†ู’ูƒูู…ู’ ุฑูุฌู’ุฒูŽ ุงู„ุดูŽู‘ูŠู’ุทูŽุงู†ู ูˆูŽู„ููŠูŽุฑู’ุจูุทูŽ ุนูŽู„ูŽู‰ ู‚ูู„ููˆุจููƒูู…ู’ ูˆูŽูŠูุซูŽุจูู‘ุชูŽ ุจูู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽู‚ู’ุฏูŽุงู…ูŽ} [ุงู„ุฃู†ูุงู„: 11]

(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu).

b. Keteguhan Pemuda Ashabul Kahfi

Allah ๏ทป berfirman dalam Surat Al-Kahfi [18] ayat 14:

{ูˆูŽุฑูŽุจูŽุทู’ู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ุฅูุฐู’ ู‚ูŽุงู…ููˆุง ููŽู‚ูŽุงู„ููˆุง ุฑูŽุจูู‘ู†ูŽุง ุฑูŽุจูู‘ ุงู„ุณูŽู‘ู…ูŽุงูˆูŽุงุชู ูˆูŽุงู„ู’ุฃูŽุฑู’ุถู ู„ูŽู†ู’ ู†ูŽุฏู’ุนููˆูŽ ู…ูู†ู’ ุฏููˆู†ูู‡ู ุฅูู„ูŽู‡ู‹ุง ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ู‚ูู„ู’ู†ูŽุง ุฅูุฐู‹ุง ุดูŽุทูŽุทู‹ุง} [ุงู„ูƒู‡ู: 14]

โ€œDan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, “Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.โ€

c. Keteguhan Ibu Nabi Musa a.s.

Allah ๏ทป berfirman dalam Surat Al-Qashash [28] ayat 10:

{ูˆูŽุฃูŽุตู’ุจูŽุญูŽ ููุคูŽุงุฏู ุฃูู…ูู‘ ู…ููˆุณูŽู‰ ููŽุงุฑูุบู‹ุง ุฅูู†ู’ ูƒูŽุงุฏูŽุชู’ ู„ูŽุชูุจู’ุฏููŠ ุจูู‡ู ู„ูŽูˆู’ู„ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ุฑูŽุจูŽุทู’ู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ูŽุง ู„ูุชูŽูƒููˆู†ูŽ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูุคู’ู…ูู†ููŠู†ูŽ} [ุงู„ู‚ุตุต: 10]

โ€œDan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).โ€

Maka, kepada orang-orang beriman, Allah ๏ทป memerintahkan mereka untuk selalu mampu tetap bertahan dalam kebaikan yang ditugaskan kepada mereka atau yang telah mereka mulai kerjakan, sebagaimana dijelaskan imam an-Nawawi dengan makna al-habsu (menahan). Allah ๏ทป berfirman dalam Surat Ali โ€˜Imran [3] ayat 200:

{ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุงุตู’ุจูุฑููˆุง ูˆูŽุตูŽุงุจูุฑููˆุง ูˆูŽุฑูŽุงุจูุทููˆุง ูˆูŽุงุชูŽู‘ู‚ููˆุง ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ู„ูŽุนูŽู„ูŽู‘ูƒูู…ู’ ุชููู’ู„ูุญููˆู†ูŽ} [ุขู„ ุนู…ุฑุงู†: 200]

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.

2. Dorongan untuk mensukseskan 2 (dua) bentuk amaliyah besar

Kedua amaliyah besar yang masuk dalam kategori ribath ini adalah terkait amaliyah di medan perang dan amaliyah yang dapat dilakukan di luar medan perang, atau amaliyah yang dapat dikerjakan sehari-hari. Di antara amaliyah besar di medan perang adalah kemampuan bertahan dalam penugasan menjaga perbatasan yang tidak boleh ditinggalkan sama sekali. Sementara amaliyah besar di luar medan perang, adalah Wudhu dan Shalat, yang merupakan sumber motivasi utama orang-orang beriman.

Berkata Abu Hurairah r.a. sebagaimana diangkat oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya, menafsirkan Surat Ali โ€˜Imran [3] ayat 200, yaitu, โ€œTahukah engkau, wahai anak saudaraku. berkenaan dengan apakah ayat ini diturunkan?” yaitu: “Ingatlah, sesungguhnya di masa Nabi Saw. tidak ada peperangan yang memerlukan mereka untuk bersiap siaga di perbatasan negerinya. Akan tetapi. ayat ini diturunkan berkenaan dengan suatu kaum yang meramaikan masjid-masjid, menunaikan salat di waktunya masing-masing. dan mereka melakukan zikir kepada Allah di dalamnya.โ€

a. Menjaga Ibadah

Ribath dalam menjaga ibadah, diawali dengan menjaga wudhu yang sempurna dan Shalat, akan dibalas dengan dihapuskannya dosa dan kesalahan dengan menyempurnakan wudhu di waktu yang tidak disukai, banyak melangkah ke Masjid dan menunggu waktu shalat. Rasulullah ๏ทบ bersabda sebagaimana riwayat Muslim nomor 251:

ยซุฃูŽู„ูŽุง ุฃูุฎู’ุจูุฑููƒูู…ู’ ุจูู…ูŽุง ูŠูŽู…ู’ุญููˆ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุจูู‡ู ุงู„ู’ุฎูŽุทูŽุงูŠูŽุง ูˆูŽูŠูŽุฑู’ููŽุนู ุจู‡ ุงู„ุฏุฑุฌุงุชุŸ ุฅูุณู’ุจูŽุงุบู ุงู„ู’ูˆูุถููˆุกู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽูƒูŽุงุฑูู‡ู  ุŒ ูˆูŽูƒูŽุซู’ุฑูŽุฉู ุงู„ู’ุฎูุทูŽุง ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุณูŽุงุฌูุฏูุŒ ูˆูŽุงู†ู’ุชูุธูŽุงุฑู ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉู ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุงู„ุตูŽู‘ู„ูŽุงุฉูุŒ ููŽุฐูŽู„ููƒูู…ู ุงู„ุฑูู‘ุจูŽุงุทูุŒ ููŽุฐูŽู„ููƒูู…ู ุงู„ุฑูู‘ุจูŽุงุทูุŒ ููŽุฐูŽู„ููƒูู…ู ุงู„ุฑูู‘ุจูŽุงุทูยป

Maukah aku beri tahukan kepada kalian tentang suatu hal yang membuat Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan karenanya dan meninggikan derajat disebabkannya? Yaitu menyempurnakan wudu di waktu-waktu yang tidak disukai, banyak melangkah menuju ke masjid-masjid, dan menunggu waktu salat sesudah menunaikan salat. Maka yang demikian itulah yang dinamakan ribat, maka yang demikian itulah yang dinamakan ribat. maka yang demikian itulah yang dinamakan ribath.

b. Menjaga Perbatasan

Ahlur-Ribath juga disebut Ahluts-Tsughur yaitu mereka yang menjaga kaum Muslimin dari serangan musuh. Di dalam Kitab Umdatul Ahkam hlm. 274 dijelaskan definisi ribath dalam konteks ini yakni:

ุงู„ุฑูู‘ุจุงุทู: ู…ู„ุงุฒู…ุฉู ุงู„ู…ูƒุงู†ู ุงู„ุฐูŠ ุจูŠู†ูŽ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†ูŽ ูˆุงู„ูƒูุงุฑู ู„ุญุฑุงุณุฉู ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ู…ู†ู‡ู….

โ€œMenetap di suatu tempat (perbatasan) antaran umat Islam dan orang kafir untuk menjaga umat Islam dari (serangan) mereka.โ€

Perbatasan yang selalu dijaga menunjukkan persiapan terus-menerus yang akan menggetarkan jiwa musuh. Syaikh as-Saโ€™rawi dalam tafsirnya hlm. 591 menjelaskan:

ุฃู† ุชุดุนุฑ ุนุฏูˆูƒ ุจุฃู†ูƒ ู…ุณุชุนุฏ ุฏุงุฆู…ุง ู„ู„ู‚ุงุฆู‡

โ€œRibath adalah engkau menunjukkan kepada musuhmu bahwa engkau selalu siap tempur berhadap-hadapan dengannya.โ€

Penjagaan ini tentu bertujuan untuk memuliakan agama, sehingga umat Islam dapat terhindar dari potensi keburukan yang lebih besar, sebagaimana dalam Al-Maushuโ€™ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah Jilid V hlm. 207 disebutkan:

ุงู„ุฑูู‘ุจูŽุงุทู ู‡ููˆูŽ: ุงู„ู’ุญูุฑูŽุงุณูŽุฉู ุจูู…ูŽุญูŽู„ูู‘ ุฎููŠููŽ ู‡ูุฌููˆู…ู ุงู„ู’ุนูŽุฏููˆูู‘ ู…ูู†ู’ู‡ูุŒ ุฃูŽูˆู ุงู„ู’ู…ูŽู‚ูŽุงู…ู ูููŠ ุงู„ุซูู‘ุบููˆุฑู ู„ูุฅูุนู’ุฒูŽุงุฒู ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ู ูˆูŽุฏูŽูู’ุนู ุงู„ุดูŽู‘ุฑูู‘ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ู…ูุณู’ู„ูู…ููŠู†ูŽ

โ€œRibath adalah penjagaan pada tempat yang dikhawatirkan bakal diserang musuh, atau wilayah perbatasan untuk memuliakan agama dan menghindarkan umat Islam dari keburukan.โ€

Mengingat tujuan-tujuan besar dan mulia itu maka dapat dipahami mengapa Ribath dalam menjaga perbatasan adalah amaliyah yang lebih baik dari dunia dan seisinya, mengalir pahala hingga hari Kiamat, matanya yang terjaga dari api Neraka, lebih baik dari puasa satu bulan penuh, dan mendapatkan keberuntungan yang hakiki.

– Lebih baik dari dunia seisinya

Rasulullah ๏ทบ bersabda sebagaimana riwayat al-Bukhari nomor 2678:

ุฑูุจูŽุงุทู ูŠูŽูˆู’ู…ู ูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู…ูู†ู’ ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽู…ูŽุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ูŽุง

โ€œRibath (bersiap siaga) satu hari di jalan Allah lebih baik dari dunia dan apa saja yang ada di atasnya.โ€

– Mengalir pahala hingga Hari Kiamat

Rasulullah ๏ทบ bersabda sebagaimana riwayat Muslim nomor 1913 dalam Kitab al-Imarat, dari Salman al-Farisi r.a.:

ุฑูุจูŽุงุทู ูŠูŽูˆู’ู…ู ูˆูŽู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู…ูู†ู’ ุตููŠูŽุงู…ู ุดูŽู‡ู’ุฑู ูˆูŽู‚ููŠูŽุงู…ูู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ุฌูŽุฑูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุนูŽู…ูŽู„ูู‡ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ูู‡ู ูˆูŽุฃูุฌู’ุฑููŠูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฑูุฒู’ู‚ูู‡ู ูˆูŽุฃูŽู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ููŽุชูŽู‘ุงู†ูŽ

 โ€œOrang yang menjaga di tapal batas sehari semalam lebih baik dari puasa dan shalat malam selama sebulan. Dan jika ia mati, maka mengalirlah (pahala) amal yang biasa ia kerjakan, diberikan rizkinya, dan dia dilindungi dari adzab (siksa) kubur dan fitnahnya.โ€

– Matanya tidak disentuh api Neraka

Rasulullah ๏ทบ bersabda sebagaimana riwayat at-Tirmidzi nomor 1563:

ุนูŽูŠู’ู†ุงู†ู ู„ุง ุชูŽู…ูŽุณูู‘ู‡ูู…ุง ุงู„ู†ุงุฑู: ุนูŠู†ูŒ ุจูƒูŽุชู’ ู…ู† ุฎุดู’ูŠุฉู ุงู„ู„ู‡ูุŒ ูˆุนูŠู†ูŒ ุจุงุชูŽุชู’ ุชูŽุญุฑูุณ ููŠ ุณุจูŠู„ู ุงู„ู„ู‡ู

โ€œDua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka: (pertama) mata yang menangis karena takut kepada Allah, (kedua) mata yang bermalam dalam keadaan berjaga di jalan Allah.โ€

– Lebih baik dari puasa satu bulan penuh

Rasulullah ๏ทบ bersabda sebagaimana diriwayatkan Muslim nomor 3537 dari Salman al-Farisi r.a.:

ุฑูุจุงุทู ูŠูŽูˆู’ู…ู ูˆูŽู„ูŽูŠู’ู„ูŽุฉู ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ู…ูู†ู’ ุตููŠูŽุงู…ู ุดูŽู‡ู’ุฑู ูˆูŽู‚ููŠูŽุงู…ูู‡ูุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ู…ูŽุงุชูŽ ุฌูŽุฑูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุนูŽู…ูŽู„ูู‡ู ุงู„ูŽู‘ุฐููŠ ูƒูŽุงู†ูŽ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ูู‡ูุŒ ูˆุฃุฌุฑููŠ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุฑุฒู‚ูู‡ุŒ ูˆูŽุฃูŽู…ูู†ูŽ ุงู„ููŽุชูŽู‘ุงู†

Melakukan ribat (bersiap siaga di jalan Allah) selama sehari semalam lebih baik daripada puasa satu bulan berikut qiyamnya. Dan jika seseorang mati (dalam keadaan berribat), maka dialirkan kepadanya amal perbuatan yang sedang diamalkannya, dan dialirkan pula kepadanya rezekinya, serta amanlah ia dari siksa kubur.

– Mendapatkan keberuntungan

Rasulullah ๏ทบ bersabda sebagaimana riwayat al-Bukhari nomor 2673:

ุชูŽุนูุณูŽ ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฏูู‘ูŠู†ูŽุงุฑู ูˆูŽุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฏูู‘ุฑู’ู‡ูŽู… ูˆูŽุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ุฎูŽู…ูŠุตุฉุŒ ุฅูู†ู’ ุฃูุนู’ุทููŠูŽ ุฑูŽุถููŠูŽุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูุนู’ุทูŽ ุณูŽุฎูุทุŒ ุชูŽุนุณ ูˆุงู†ุชูƒูŽุณูŽุŒ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุดููŠูƒูŽ ููŽู„ูŽุง ุงู†ู’ุชูŽู‚ูŽุด ุทููˆุจูŽู‰ ู„ุนูŽุจุฏู ุขุฎุฐู ุจูุนูู†ูŽุงู†ู ููŽุฑูŽุณู‡ ูููŠ ุณูŽุจููŠู„ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูุŒ ุฃุดุนุซูŽ ุฑุฃุณูู‡ูุŒ ู…ูุบูŽุจูŽู‘ุฑุฉู ู‚ูŽุฏูŽู…ูŽุงู‡ูุŒ ุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุญูุฑูŽุงุณูŽุฉู ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ุญูุฑูŽุงุณูŽุฉูุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ุงู„ุณูŽู‘ุงู‚ุฉ ูƒูŽุงู†ูŽ ูููŠ ุงู„ุณูŽู‘ุงู‚ูŽุฉูุŒ ุฅูู†ู ุงุณู’ุชูŽุฃู’ุฐูŽู†ูŽ ู„ูŽู…ู’ ูŠูุคู’ุฐูŽู†ู’ ู„ูŽู‡ูุŒ ูˆูŽุฅูู†ู’ ุดูŽููŽุน ู„ูŽู…ู’ ูŠูุดููŽู‘ุนู’”

Celakalah pengabdi dinar, pengabdi dirham, dan pengabdi perut; jika diberi, suka; jika tidak, marah; celaka dan hinalah dia; dan apabila terkena duri, semoga saja durinya tidak dapat dicabut. Beruntunglah seorang hamba yang memegang kendali kudanya di jalan Allah dalam keadaan rambut yang awut-awutan dan kedua kakinya berdebu. Jika ia berada di dalam pos penjagaan, maka ia berada di pos penjagaan; dan jika ia bertugas di belakang pasukan, maka ia berada di belakang pasukan. Jika meminta izin, ia tidak diberi izin; dan jika meminta pertolongan, maka ia tidak diberi pertolongan.

Semoga Allah SWT sentiasa meneguhkan jiwa kita dalam menegakkan ribath dan semoga Allah mencatat kita sebagai Ahl ar-Ribath. Amin.

Wido Supraha

Wakil Sekretaris Komisi Ukhuwah MUI Pusat | Direktur Institut Adab Insan Mulia

โ–ซ๏ธโ–ซ๏ธโ–ซ๏ธโ–ซ๏ธโ–ซ๏ธโ–ซ๏ธโ–ซ๏ธโ–ซ๏ธโ–ซ๏ธ

๐Ÿ“ก Telegram: @supraha | ๐Ÿฆ Twitter: @supraha | ๐Ÿ’ข IG: @supraha | ๐ŸŽฅ YouTube: @supraha | ๐ŸŒ widosupraha.com

๐Ÿ“ฒ Channel WA: https://chat.whatsapp.com/EtScK0TbSuh6ihBt9E8JzV

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: