Lanjut ke konten

Istiqamah

Hidup selalu dihadapkan pada pilihan. Di antara pilihan dalam kehidupan adalah menjadi manusia yang mulia atau yang hina. Mulia di sisi Allah, boleh jadi hina di sisi makhluk. Sebaliknya, mulia di sisi makhluk, boleh jadi hina di sisi Sang Khalik. Mereka yang mulia di sisi Allah, mereka lah yang mendapatkan karamah atau kemuliaan. Namun tidaklah diperoleh karamah kecuali dengan istiqamah, dan tidaklah Allah hadirkan karamah kecuali bertujuan agar hamba-Nya dapat semakin istiqamah.

Allah SWT berfirman dalam Surat Fushshilat [41] ayat 30:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”

Menurut Sayyidina Abu Bakar r.a., makna “kemudian mereka istiqamah” dalam ayat di atas adalah, “Mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun.” Ditambahkan oleh ‘Abdullah ibn ‘Abbas r.a., “Mereka konsisten dalam melaksanakan kewajiban.” Qatadah juga mengatakan, “Istiqamah dalam ketaatan kepada Allah.” Dengan demikian, istiqamah yang dimaksud adalah istiqamah dalam ketauhidan, keikhlasan dan keta’atan.

Allah SWT juga berfirman dalam Surat Al-Ahqaf [46] ayat 13:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ

Sesungguhnya orang-orang yang  berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka tetap istiqamah tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati.

Ketauhidan, keikhlasan dan keta’atan hamba kepada Allah SWT, akan membuatnya tidak pernah bersedih hati dengan masa lalunya yang mungkin penuh dengan kegelapan, sebagaimana ia pun tidak pernah khawatir dengan masa depannya. Selama ia bersama Allah SWT, bersama bimbingan-Nya, terus berusaha mengejar ridha-Nya, ia akan selalu penuh harapan dan penuh motivasi, bahkan senang memotivasi orang-orang di sekitarnya.

Istiqamah dalam ketaatan diwujudkan dengan sentiasa merawat sekecil apapun amalan yang telah mulai dikerjakannya. Rasulullah SAW pernah bersabda sebagaimana riwayat Muslim:

  إِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ  

“Sungguh, ibadah yang paling dicintai oleh Allah adalah ibadah yang paling konsisten sekalipun sedikit.”

Di dalam Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menjelaskan bahwa tidaklah termasuk kebaikan jika suatu perbuatan tidak bisa dilakukan secara istiqamah atau terus menerus. Kebaikan seorang hamba ada pada konsistensinya. Kesempurnaan iman seorang hamba juga terlihat pada kualitas konsistensinya. Oleh karena itu, Rasulullah SAW dahulu pernah bersabda, sebagaimana riwayat al-Bukhari no. 1152 dan Muslim no. 1159:

يَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ

Wahai ‘Abdullah janganlah seperti si fulan. Dahulu ia rajin shalat malam, sekarang ia meninggalkan shalat malam tersebut.

Disebutkan dalam sebuah pepatah Arab:

اَلْإِسْـتِقَـامَةِ خَيْرٌ مِـنْ اَلْفِ كَــرَامَةٍ # ثُبُــوْتُ الْكـَـرَامَةِ بـِدَوَامِ الْإِسْـتِقـَـامَةِ

Istiqamah lebih utama dari seribu karomah, dan tumbuhnya karamah dengan menjaga Istiqamah.

Disebutkan pula dalam sebuah maqalah: “al-Istiqomah ‘ainul Karomah wa Haqiqah al-Karamah Husnul Khotimah.” Istiqamah adalah sumber karamah, dan hakikat karamah adalah ketika seseorang wafat dalam kondisi husnul khatimah.

Dengan demikian, al-istiqamah a‘zhamu al-karamah, bahwa istiqamah adalah karamah yang paling agung. Sebagaimana perkataan Ibn Taimiyyah:

أعظمُ الكرامَةِ لزُومُ الاستقامَة

Karamah yang paling mulia adalah berpegang teguh dengan istiqomah.

Beliau juga berkata dalam kitabnya Al-Furqan bayna Auliya ar-Rahman wa Auliya asy-Syaithan :

وإنَّما غايةُ الكرامَةِ لزومُ الاستقامةِ

Tujuan (diberi) karamah itu hanyalah agar dapat berpegang teguh dengan istiqamah.

Jika dahulu Nabi Yunus a.s. akhirnya dikeluarkan dari perut ikan yang memakannya, hal itu tidak semata-mata karena do’anya: Laa ilaaha illaa anta, subhanaka innii kuntu minazhzhaalimiin. Perhatikan Surat Ash-Shaffat [37] ayat 143-144:

فَلَوْلَآ اَنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِيْنَ ۙ لَلَبِثَ فِيْ بَطْنِهٖٓ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَۚ

Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah. Niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai hari kebangkitan.

Cara Allah memuliakan orang-orang yang istiqamah di antaranya dengan memberikan banyak kemudahan dalam kehidupan ini kepadanya. Sebuah pepatah Arab dalam Syarh Mukhtashar Jiddan ‘ala Matn al-Ajurumiyyah, hlm. 12, karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan: haitsuma tastaqim yuqaddir lakallah najahan (di manapun kamu istiqamah, maka Allah akan menakdirkanmu kesuksesan).

Oleh karena itu Ibnul Qoyyim rahimahullah menukilkan perkataan yang indah dalam kitabnya Madarijus Salikin:

كُن صاحبَ الاستقامَةِ لا طالِبَ الكَرامة ، فإنَّ نفسَك متحرِّكَةٌ في طلَبِ الكرامةِ، وربُّك يُطالبُكَ بالاستقامةِ

Jadilah orang yang beristiqomah, (dan) jangan menjadi pencari karamah, karena (sifat) jiwamu itu tergerak mencari karamah, sedangkan Rabb-mu menuntutmu untuk istiqomah!

Perlu juga mewaspadagi gangguan-gangguan keistiqamah. Pertama, seringkali gangguan keistiqamahan adalah karena mengikuti ajakan-ajakan manusia yang menjauhkan kita dari kebutuhan kita kepada Allah. Difirmankan dalam Surat Asy-Syura [42] ayat 15:

وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ  

Dan tetaplah (istiqamah beriman dan berdakwah) sebagaimana diperintahkan kepadamu (Muhammad) dan janganlah mengikuti keinginan mereka dan katakanlah, ‘Aku beriman kepada Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan agar berlaku adil di antara kamu.

Kedua, seringkali pula gangguan keistiqamahan adalah karena terlalu memperturutkan hawa nafsu sehingga menomorduakan ilmu. Perhatikan dalam Surat Asy-Syura ayat 15:

فَلِذَلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ  (الشورى: ١٥)

“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan istiqamahlah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka.”

Dahulu pernah datang seorang sahabat yang bertanya tentang ilmu. Beliau adalah Abu ‘Amr atau Abu ‘Amrah, Sufyan bin Abdillah r.a., yang berkata:

 عَنْ أَبِيْ عَمْرٍو، وَقِيْلَ، أَبِيْ عَمْرَةَ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ قُلْ لِيْ فِي الإِسْلامِ قَوْلاً لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدَاً غَيْرَكَ؟ قَالَ: قُلْ آمَنْتُ باللهِ ثُمَّ استَقِمْ

“Aku berkata: Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku suatu perkataan dalam Islam yang aku tidak perlu bertanya tentangnya kepada seorang pun selainmu.” Beliau bersabda, “Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.”

Jika kita ingin menciptakan lingkungan yang istiqamah, mulailah dari dirimu. Keteladananmu akan menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitarmu. Berkata Imam Rifa’i pernah menyatakan:

اِسْتَقِمْ بِنَفْسِكَ يَسْتَقِمْ بِهَا غَيْرُكَ، كَيْفَ يَكُوْنُ الظِّلُّ مُسْتَقِيْمًا وَالْعُوْدُ أَعْوَجُ

Istiqamahkan dirimu maka orang lain akan menjadi istiqamah karenamu, bagaimana mungkin bayangan sebuah benda akan lurus jika bendanya bengkok?

Al-Hasan al-Bashri pernah mengatakan:

ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ، ذَهَبَ بَعْضُكَ

Wahai manusia, engkau tidak lain adalah hari-hari yang terus berjalan, setiap lewat suatu hari maka sebagian dari dirimu telah hilang dan lenyap.

Bahkan al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi sangat menyayangkan waktu yang berlalu begitu saja hanya untuk makan. Ia mengatakan:  “Waktu yang sangat aku sayangkan pergi begitu saja adalah saat aku makan.”

Oleh karenanya, Allah menganjurkan manusia untuk memperbanyak istighfar untuk semakin menguatkan keistiqamahan, hal ini karena istighfar mengandung taubat dan motivasi untuk terus istiqamah. Allah SWT berfirman dalam Surat Fushshilat [41] ayat 6

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ
أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ

Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Rabbmu adalah Rabb Yang Maha Esa, maka tetaplah istiqomah pada jalan yan lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya.

Ketika kita hari ini begitu sering meminta rizki yang bersifat duniawi, al-Hasan al-Bashri justru meminta rizki berupa istiqamah:

اللهم أَنْتَ رَبُّنَا فَارْزُقْنَا الْاسْتِقَامَةَ  

Ya Allah, Engkau adalah Tuhan kami, maka karuniakanlah kepada kami istiqamah di jalan-Mu.

WidoSupraha.Com

▫️ Web: WidoSupraha.Com
▫️ Telegram: t.me/supraha
▫️ FB: fb.com/suprahawido
▫️ IG: instagram.com/supraha
▫️ Twitter: twitter.com/supraha
▫️ YouTube: youtube.com/supraha
▫️ WA: https://chat.whatsapp.com/IRr5xEgVz5DBcxftSG0Pyp

Admin: wa.me/6287726541098

One thought on “Istiqamah Tinggalkan komentar

Tinggalkan komentar