Lanjut ke konten

Bereskan Shalat, Lepaskan Musykilat

Dr. Wido Supraha, M.Si. (Wakil Ketua DPP Persatuan Ummat Islam)
Disampaikan dalam acara Ngaos Shubuh Bareng ke-27 di Masjid At-Taqwa, 08 Juli 2023

Hakikat kehidupan dunia adalah banyaknya ujian, karena hanya Jannah, Negeri Tanpa Ujian.

Allah Ta’ala berfirman:

1. Dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 45:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.

2. Dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 153:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

3. Dalam surat Al-Ma’un [107] ayat 4-5:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ

Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya.

4. Dalam surat Al-Ankabut [29] ayat 45:

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

5. Dalam surat Al-Isra’ [17] ayat 79:

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا

Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.

Pelajaran:

  • Isti’anah berbeda dengan istighatsah, meskipun secara bahasa memiliki pola yang kurang lebih sama, sama-sama mengikuti pola istif’aal (اِسْتِفْعَال) dari kata al-‘aun (العَوْن) yang berarti thalab al-‘aun (طَلَبُ الْعَوْنِ): meminta pertolongan.
  • Jika isti’anah meminta pertolongan secara umum, maka istighatsah lebih khusus lagi saat dalam kondisi benar-benar sulit: طَلَبُ الغَوْثِ عِنْدَ الشِّدَّةِ وَالضِّيْقِ
  • Isti’anah pada hakikatnya hanyalah kepada Allah SWT sebagaimana Q.S. Al-Fatihah [1] ayat 5
  • Isti’anah kepada makhluk dibolehkan selama tetap dalam mencari keridhaan Allah SWT, disebut ta’awun ‘alal birri wattaqwa (Q.S. Al-Maidah [5] ayat 2)
  • Di antara sarananya adalah isti’anah dengan amal shalih yakni amalan hati berupa sabar dan amalan lahir diawali dengan shalat
  • Sabar didahulukan dari shalat (meng-athafkan yang khusus kepada yang umum) karena shalat merupakan salah satu bentuk sabar, sebagaimana sabar terbagi 3 (tiga): sabar dalam merawunat keta’atan, mencegah diri dari kemaksiatan, dan sabar dalam ujian
  • Amalan lahir yang produktif sangat bergantung dengan amalan batin sebagai bukaan awalnya, sehingga shalat yang khusyu’ membutuhkan hati yang telah melalui proses tazkiyah (pensucian)
  • Bersabar adalah cara cerdas agar selalu dibersamai Allah SWT (2:153), dicintai-Nya (3:146), diberikan kegembiraan dari kesedihan (2:155), dan mengundang pahala yang banyak (11:115)
    •  وَا للّٰهُ  مَعَ  الصّٰبِرِ يْنَ
    •  وَا للّٰهُ  يُحِبُّ  الصّٰبِرِ يْنَ
    • وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ  بِشَيْءٍ  مِّنَ  الْخَـوْفِ  وَا لْجُـوْعِ  وَنَقْصٍ  مِّنَ  الْاَ مْوَا لِ  وَا لْاَ نْفُسِ  وَا لثَّمَرٰتِ   ۗ وَبَشِّرِ  الصّٰبِرِ يْنَ
    • وَا صْبِرْ  فَاِ نَّ  اللّٰهَ  لَا  يُضِيْعُ  اَجْرَ  الْمُحْسِنِيْنَ
  • Secara fiqh, shalat dimaknai sebagai rangkaian ucapan dan perbuatan tertentu yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam[1]
  • Awali menyelesaikan masalahmu dengan memperbaiki shalatmu, sehingga melahirkan ketenangan jiwa yang berdampak pada pribadi yang penuh motivasi dan dekat dengan bimbingan Allah SWT
  • Shalat dengan demikian menjadi kebutuhan setiap manusia yang akan menjadi awal dalam menyelesaikan setiap persoalan dalam kehidupan
  • Mereka yang tidak memahami rumus di ataslah yang akhirnya memandang shalat sebagai kewajiban dan beban, sehingga sering dikerjakan dengan asal-asalan, bacaan yang terburu-buru tanpa pemaknaan, gerakan yang tidak menenangkan dan penuh penghayatan, dan tidak tepat waktu sesuai kepatutan
  • Menjadi semakin kompleks jika dalam shalat berjama’ah, perasaan bahwa shalat sekedar kewajiban dan beban dialami oleh sang imam, yang menakhodai makmum, sehingga bacaan imam tidak meresap dalam jiwa makmum, bahkan tidak sedikit makmum yang harus tergopoh-gopoh mengikuti ritme cepatnya imam
  • Shalat bermakna do’a, maka tentu tidak pantas seseorang berdo’a kepada Allah SWT dengan tergesa-gesa seakan-akan tidak berharap untuk dikabulkan
  • Maqatil bin Hayan rahimahullah berkata tentang tafsiran ayat ini, “Mintalah tolong dalam mencari akhirat dengan sabar dalam melakukan kewajiban dan shalat.”[2]
  • Bulan Ramadhan disebut dengan bulan sabar. Sebagaimana disebutkan oleh Al-Qurthubi dan ulama lainnya.[3]
  • Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu dan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah bahwa sabar itu ada dua macam. Pertama, sabar dalam menghadapi musibah. Sabar yang lebih baik dari itu adalah sabar dalam meninggalkan yang Allah haramkan.[4]
  • Hudzaifah bin Al-Yaman berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendapati kesulitan dalam suatu urusan, beliau segera mengerjakan shalat.[5]
  • Orang yang khusyu’ dan tenang dalam shalatnya, shalat akan mudah baginya dan juga ia akan mudah untuk sabar.[6]
  • Sabar akan memudahkan segala macam urusan. Begitu pula shalat yang merupakan timbangan iman dan dapat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar akan memudahkan berbagai urusan.[7]

[1] Zainuddin bin Abdul Aziz al-Maliabari dalam kitab Fathul Mu’in.

[2] Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1: 379.

[3] Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim karya Ibnu Katsir, 1: 379.

[4] Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 1: 380.

[5] HR. Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya.

[6] Lihat penafsiran Syaikh al-Utsaimin.

[7] Demikian kata Syaikh As-Sa’di dalam kitab tafsirnya, hlm. 38.

WidoSupraha.Com

▫️ Web: WidoSupraha.Com
▫️ Telegram: t.me/supraha
▫️ FB: fb.com/suprahawido
▫️ IG: instagram.com/supraha
▫️ Twitter: twitter.com/supraha
▫️ YouTube: youtube.com/supraha
▫️ WA: https://chat.whatsapp.com/IRr5xEgVz5DBcxftSG0Pyp

Admin: wa.me/6287726541098

Tinggalkan komentar