Lanjut ke konten

Wafatnya Ulama dan Berkahnya Ilmu

Ulama adalah sosok mulia yang memberikan keteladanan akan bagaimana tunduk kepada Allah dalam menjalani kehidupan di dunia yang sementara ini dalam bimbingan ilmu. Allah ﷻ berfirman dalam Surat Fathir [35] ayat 28:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَاۤبِّ وَالْاَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ اَلْوَانُهٗ كَذٰلِكَۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ

Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.

Kehadiran ulama akan memberikan cahaya pada jiwa-jiwa manusia. Oleh karenanya, wafatnya ulama akan menjadi musibah yang sangat besar karena akan menjadi tantangan besar untuk menggantikannya. Rasulullah ﷺ pernah berpesan sebagaimana riwayat ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’ r.a.:

مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ, وَنَجْمٌ طُمِسَ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ

Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama.

Wafatnya ulama akan berpotensi melahirkan wafatnya dunia, dalam pengertian menjadi gelapnya jiwa-jiwa manusia, sebagaimana satu pepatah mengatakan:

موت العالم موت العالم

Tidak mudahnya menggantikan sosok ulama yang wafat pernah disampaikan oleh sahabat yang mulia, Abdullah bin Mas’ud r.a.:

موت العالم ثُلْمَة في الإسلام لا يسدُّها شيء ما اختلف الليل والنهار

Kematian seorang ulama adalah kebocoran di dalam Islam dan tidak bisa ditutup meskipun malam dan siang datang silih berganti.

Juga sebagaimana al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddn I/15 pernah menyatakan:

إذا مات العالم ثلم في الإسلام ثلمة لا يسدها الا خلف منه

Jika satu ulama wafat, ada sebuah lubang dlm Islam yg tak dapat ditambal kecuali oleh penerusnya.

Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah ﷺ,

خُذُوا الْعِلْمَ قَبْلَ أَنْ يَذْهَبَ، قَالُوا : وَكَيْفَ يَذْهَبُ الْعِلْمُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ، قَالَ:إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ

“Ambillah (pelajarilah) ilmu sebelum ilmu pergi!” Sahabat bertanya, “Wahai Nabiyullah, bagaimana mungkin ilmu bisa pergi (hilang)?” Rasulullah menjawab:

إِنَّ ذَهَابَ الْعِلْمِ أَنْ يَذْهَبَ حَمَلَتُهُ

Perginya ilmu adalah dengan perginya (wafatnya) orang-orang yang membawa ilmu (ulama).

Sayyidina ‘Abdullah bin Mas’ud r.a. dalam sebuah riwayat mendorong manusia untuk mendekati para ulama dan mengambil keberkahan ilmu mereka, dan karena ilmu hanya dapat diraih dengan belajar. Para syuhada juga disebutkan kelak sangat cemburu dengan kedudukan para ulama kelak di Hari Kebangkitan:

ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺮﻓﻊ ﻭﺭﻓﻌﻪ ﻣﻮﺕ ﺭﻭﺍﺗﻪ، ﻓﻮﺍﻟﺬﻱ ﻧﻔﺴﻲ ﺑﻴﺪﻩ ﻟﻴﻮﺩﻥ ﺭﺟﺎﻝ ﻗﺘﻠﻮﺍ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺷﻬﺪﺍﺀ ﺃﻥ ﻳﺒﻌﺜﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻤﺎﺀ ﻟﻤﺎ ﻳﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﻛﺮﺍﻣﺘﻬﻢ، ﻓﺈﻥ ﺃﺣﺪﺍ ﻟﻢ ﻳﻮﻟﺪ ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻟﺘﻌﻠﻢ

“Wajib atas kalian untuk menuntut ilmu, sebelum ilmu tersebut diangkat/dihilangkan. Hilangnya ilmu adalah dengan wafatnya para periwayatnya/ulama. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah sebagai syuhada, mereka sangat menginginkan agar Allah membangkitkan mereka dengan kedudukan seperti kedudukannya para ulama, karena mereka melihat begitu besarnya kemuliaan para ulama. Sungguh tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan sudah berilmu. Ilmu itu tidak lain didapat dengan cara belajar.”

Mereka adalah penerus dari perjuangan para pendahulunya:

إِذٌا سَيِّدٌ مِنّا خَلَا قامَ سَيِّدٌ # قَؤُوْلٌ لِمَا قَالَ الْكِرَامُ فَعُوْلُ

Tatkala seorang tokoh kami meninggal dunia, maka tokoh lainnya yang juga vokal dan aktif akan menggantikannya.

Kehadiran ulama terkadang baru kita rasakan di saat ia telah tiada. Wafatnya akan menjadi nasihat bagi orang-orang yang selama ini meremehkan kehadirannya. Terdapat satu ungkapan dalam sya’ir:

وَكَانَتْ فِيْ حَيَاتٍكَ لِيْ عٍظَاتُ # وَأَنٰتَ الْيَوْمَ أَوْعَظُ مِنْكَ حَيَّا

Dalam hidupmu terdapat pelajaran serta nasihat bagiku. Pada hari ini (pasca wafat), engkau menjelma menjadi penasehat, lebih dari saat engkau masih hidup.

Peran Ulama dengan demikian dalam mencerdaskan ummat begitu sangat strategis. Umumnya ulama hidup dengan ilmunya sehingga manusia lain banyak yang kemudian hidup dengan ilmu para ulama:

أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ قَالَ قَالَ أَبُو مُسْلِمٍ الْخَوْلَانِيُّ الْعُلَمَاءُ ثَلَاثَةٌ فَرَجُلٌ عَاشَ فِي عِلْمِهِ وَعَاشَ مَعَهُ النَّاسُ فِيهِ وَرَجُلٌ عَاشَ فِي عِلْمِهِ وَلَمْ يَعِشْ مَعَهُ فِيهِ أَحَدٌ وَرَجُلٌ عَاشَ النَّاسُ فِي عِلْمِهِ وَكَانَ وَبَالًا عَلَيْهِ

Telah mengabarkan kepada kami [Sulaiman bin Harb] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Ayyub] dari [Abu Qilabah] ia berkata: ” [Abu Muslim al-Khaulani] pernah berkata: ‘Ulama’ itu ada tiga: Pertama Ulama’ yang hidup dengan ilmunya dan manusia lain hidup dengan ilmunya, Kedua ulama’ yang hidup dengan ilmunya dan tidak seorang pun mendapatkan manfaat ilmu tersebut, dan ketiga ulama yang masyarakat hidup dengan ilmunya, namun ilmu tersebut justru mencelakaan dirinya sendiri”.

Merekalah para ulama sebagai orang yang dideskripsikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal sebagai berikut:

يَدْعُوْنَ مَنْ ضَلَّ إِلٰى الْهُدَى، وَيَصْبِرُوْنَ مٍنْهُمْ عَلَى الْأَذَى، يُحْيُوْنَ بٍكِتَابِ اللْٰهِ الْمٌوْتٰى، وٌيُبٰصِرُوْنَ بِنُوٰرِ اللّٰهِ أَهْلَ الْعَمٌى، فَكٌمْ مِنْ قَتِيْلٍ لِإِبْلِيْسَ قَدْ أَحْيَوْهُ وَكٌمْ مِنٰ ضَالٍّ تَائِهٍ قٌدْ هَدَوْهُ.

“Mereka (para ulama) memberi petunjuk kepada orang yang tersesat, sabar menghadapi gunjingan, menghidupkan orang “mati” dengan kitab Allah, dan memberikan penerangan kepada orang “buta”. Betapa banyak korban iblis telah dihidupkan oleh mereka, dan berapa banyak orang tersesat dan kehilangan arah yang telah mereka beri petunjuk”.

Orang-orang yang bersungguh-sungguh membersamai ulama maka umurnya akan sentiasa berada dalam keberkahan. Di antara bentuk bertambahnya kebaikan (ziyadah al-khair) sebagai wujud keberkahannya adalah usaha orang-orang berilmu untuk menjaga ilmu ditafsirkan secara politis oleh orang-orang bodoh yang bermaksud jahat hingga melampui batas:

يَرِثُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ يَنْفُونَ عَنْهُ تَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ وَتَحْرِيفَ الْغَالِينَ. (رواه البيهقي).

Ilmu (yang bersumber dari Qur’an dan Hadits) ini akan diemban oleh orang-orang yang memiliki integritas dari sekian penerus. Mereka akan membersihkannya dari penafsiran orang bodoh, klaim orang jahat, dan penyelewengan orang yang melampaui batas.

Maka kepada manusia yang masih diberikan nikmat kehidupan, janganlah engkau sia-siakan umurmu kecuali untuk mengejar keberkahan ilmu dengan selalu dekat dengan para ulama, agar hidupmu sentiasa berada dalam petunjuk. Keberkahan itu yang kita harapkan mengalirkan pahala yang terus menerus dari prioritas amal yang kita hadirkan dalam hidup kita. Sya’ir ini menjadi penutup muhasabah kita dalam tulisan ini:

* مَا الْفَضْلُ إِلَّا لِأَهْلِ الْعِلْمِ إِنٌّهُمْ # عَلَى الْهُدٰى لِمَنِ اسْتَهٰدٓى أَدِلٌْاءُ

* وَقٌدِّرْ كُلَّ امْرِئٍ مَا كَانَ يُحْسِنُهُ # وَالْجَاهِلُوْنَ لِأَهْلِ الْعِلْمِ أَعْدَاءُ

* فَفُزْ بِعِلْمٍ تَعِشْ حَيّاً بِهٍ أٌبٌدًا # اَلنَّاسُ مَوْتٰى أَهْلُ الْعِلْمِ أَحْيٌاءُ

Tidak ada keutamaan kecuali milik orang yang berilmu. Mereka orang petunjuk bagi orang yang membutuhkan.

Hargai setiap orang selama dia berbuat baik padanya. Dan orang-orang bodoh adalah musuh orang yang berilmu.

Dapatkan ilmu lalu hiduplah dengan abadi. Manusia akan mati, sementara orang berilmu akan terus hidup.

Wido Supraha
@supraha

Channel WA: https://chat.whatsapp.com/Ib5FsX82gd5DGwR7wL0Tk6

Telegram: t.me/supraha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: