Lanjut ke konten

Tadabbur Ayat-ayat Sajdah

Oleh: Dr. Wido Supraha, M.Si.

Pernahkah kita menyadari sebuah paradoks yang indah dalam kehidupan kita? Untuk bisa melompat lebih tinggi, kita harus sedikit merendahkan badan. Untuk melesatkan anak panah sejauh mungkin ke depan, kita justru harus menarik talinya jauh ke belakang.

Dalam spiritualitas Islam, rumus yang sama berlaku untuk kedudukan jiwa kita. Pernahkah kita merenungkan: mengapa untuk menggapai derajat tertinggi dan posisi paling dekat dengan Sang Pencipta, kita justru diwajibkan menempelkan bagian paling mulia dari tubuh kita—yaitu wajah dan kening—ke titik yang paling rendah, menyatu dengan debu bumi?

Jawabannya ada pada satu kata: Ketundukan. Sering kali, dada kita terasa sesak oleh beban duniawi karena ego kita yang terlalu tinggi menjulang. Padahal, saat kita bersedia meluruhkan kesombongan itu di atas sajadah, kelapangan jiwa seketika akan hadir memenuhi ruang hati kita.

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى حَبِيبِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Pernahkah kita menyadari sebuah paradoks yang indah dalam kehidupan kita? Untuk bisa melompat lebih tinggi, kita harus sedikit merendahkan badan. Untuk melesatkan anak panah sejauh mungkin ke depan, kita justru harus menarik talinya jauh ke belakang.

Dalam spiritualitas Islam, rumus yang sama berlaku untuk kedudukan jiwa kita. Pernahkah kita merenungkan: mengapa untuk menggapai derajat tertinggi dan posisi paling dekat dengan Sang Pencipta, kita justru diwajibkan menempelkan bagian paling mulia dari tubuh kita—yaitu wajah dan kening—ke titik yang paling rendah, menyatu dengan debu bumi?

IKLAN PERJUANGAN MEMBANGUN PONDOK ADAB

Sudahkah kamu berwakaf pagi ini?
https://wakafbareng.id/campaign/bangunpusatadabnasional/

Jawabannya ada pada satu kata: Ketundukan. Sering kali, dada kita terasa sesak oleh beban duniawi karena ego kita yang terlalu tinggi menjulang. Padahal, saat kita bersedia meluruhkan kesombongan itu di atas sajadah, kelapangan jiwa seketika akan hadir memenuhi ruang hati kita.

Sahabat seperjuangan menuju surganya Allah, alhamdulillah kita masih diberikan kesempatan untuk menguatkan dan membuktikan kecintaan kita kepada Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa taala pernah menyindir kita di dalam Surah Muhammad ayat 24 dengan firman-Nya, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”.

Sebagai makhluk Allah, kita harus bersegera menjawab: “Tidak, ya Allah, hati kami tidak terkunci, kami insyaallah akan berusaha mentadaburi ayat-ayat-Mu sesering mungkin, bahkan setiap hari.”

Kata “tadabur” sendiri diambil dari kata dubur yang artinya memperhatikan yang akhir. Orang yang terbiasa mentadaburi Al-Qur’an akan menjadi pribadi yang visioner, selalu memikirkan ujung atau akhir dari segala sesuatu yang ia lakukan. Untuk itu, penting bagi kita membaca Al-Qur’an dengan perlahan (tartil) agar kita bisa mentadaburinya dengan baik.

Kedudukan Ayat-Ayat Sajadah dalam Pandangan Fiqih

Dalam kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Quranil Karim karya Imam An-Nawawi, serta pandangan mayoritas ulama (Jumhur) seperti mazhab Syafi’i dan salah satu riwayat Imam Ahmad, dijelaskan bahwa dari total 114 surah dan 6.236 ayat Al-Qur’an, ayat-ayat sajdah terbagi menjadi dua kategori utama, yakni 14 ayat sebagai ‘Azaim as-Sujud dan 1 ayat berstatus Mustahab.

Kesunahan sujud tilawah ini berlaku baik untuk qari (orang yang membaca) maupun mustami’ (orang yang menyimak dengan serius). Saat menemukan ayat sajadah, kita disyariatkan untuk menghadap kiblat dalam keadaan berwudu dan melakukan sujud. Adapun doa sujud yang dibaca adalah:

“Sajada wajhiya lilladzi khalaqahu wasawarahu wasyaqqo sam’ahu wa basarahu bihaulihi wa quwwatihi fatabarakallahu ahsanul khaliqin.”

(Ya Allah, wajahku bersujud kepada Zat yang menciptakan, membentuk, dan membukakan pendengaran serta penglihatan dengan daya dan kekuatan-Nya. Maha Suci Allah, sebaik-baik Pencipta).

Mari kita tadaburi rincian ayat-ayat sajadah tersebut dari awal hingga akhir Al-Qur’an:

Kategori I: ‘Azaim as-Sujud (14 Ayat)

Ayat-ayat ini adalah ‘Azaim as-Sujud, yaitu ayat-ayat yang perintah atau anjuran sujud tilawahnya sangat kuat dan ditekankan.

1. Surat Al-A’raf [7] ayat 206

إِنَّ الَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ ۩

“Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nya-lah mereka bersujud.”

Ini adalah ayat sajadah pertama dalam Al-Qur’an. Ibnu Katsir mengutip pandangan ulama salaf bahwa ayat penutup surat Al-A’raf ini diturunkan untuk memerintahkan manusia meniru ketawadhuan para malaikat. Mereka adalah hamba terdekat Allah yang senantiasa bertasbih dan tidak pernah memiliki kesombongan (istikbar) dalam beribadah. Membaca ayat ini seharusnya memunculkan rasa cemburu di hati kita; malaikat saja senantiasa bersujud, mengapa kita manusia terkadang sombong dan meremehkan panggilan salat demi urusan bisnis semata?

2. Surat Ar-Ra’d [13] ayat 15

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَالُهُم بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ ۩

“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.”

Imam At-Thabari menukil dari Qatadah dan Mujahid bahwa orang mukmin sujud dengan sukarela (thaw’an), sedangkan orang kafir sujud secara terpaksa (karhan) melalui ketundukan fisik dan bayangannya pada sunnatullah. Ayat ini adalah sindiran keras: jika bayangan saja bersujud, mengapa manusia yang dibayangi tidak? Sifat orang beriman sejati adalah taat secara rela dan tidak pernah bosan untuk sujud.

3. Surat An-Nahl [16] ayat 50

يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ ۩

“Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).”

Meskipun tidak mengandung kata sujud secara eksplisit, ayat ini adalah gambaran ketundukan mutlak karena sifat khasyyah (rasa takut karena menyadari keagungan Allah dan kerendahan diri). Orang yang memiliki khasyyah mengambil energi dari sujudnya; ketakutan tersebut memicu mereka untuk bersegera melaksanakan perintah Allah tanpa menunda-nunda. Itulah ciri sejati orang yang berilmu.

4. Surat Al-Isra’ [17] ayat 109

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا ۩

“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.”

Asbabun Nuzul ayat ini berkaitan dengan para pendeta murni tauhid terdahulu yang mengenali sifat Nabi Muhammad ﷺ dalam kitab mereka. Ketika mendengar Al-Qur’an, jiwa mereka tersentuh, air mata mengalir, dan mereka menyungkurkan wajah yang sering membuat sombong itu ke bumi. Ibnu Abbas menjelaskan inilah ciri ilmu yang bermanfaat. Menukil pesan Imam Al-Ghazali: Bacalah Al-Qur’an dan menangislah. Jika kesulitan, tangisilah dirimu yang keras hatinya hingga tidak bisa menangis.

5. Surat Maryam [19] ayat 58

… إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا ۩

“… Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.”

Ibnu Jarir at-Thabari menggarisbawahi bahwa ayat ini menyebutkan sifat pewaris kebenaran—mulai dari zaman Adam, Nuh, Ibrahim, Israil (Yaqub), hingga umat Muhammad ﷺ. Saat dibacakan ayat-ayat Yang Maha Pengasih, mereka spontan tunduk, sujud, dan menangis haru memadukan rasa rindu rahmat dan takut azab. Ini menyadarkan kita bahwa golongan yang diberi nikmat (an’amallahu alaihim) adalah mereka yang selalu merespons kebesaran Allah dengan penuh ketundukan.

6. Surat Al-Hajj [22] ayat 18

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ ۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ ۗ وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ ۩

“Tidakkah kamu mengetahui bahwa sujud kepada Allah siapa yang ada di langit, siapa yang ada di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya…”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa alam semesta (matahari, bulan, gunung, dll) melakukan sujud inqiyad (tunduk pada hukum alam). Sementara itu, sujud ibadah sukarela diamanatkan kepada jin dan manusia. Mirisnya, banyak manusia yang justru menolak kehormatan sujud ini, sehingga mereka dihinakan dan ditetapkan azab atas mereka.

7. Surat Al-Hajj [22] ayat 77

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ۩

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”

Imam Syafi’i dan Ahmad menjadikan ayat ini pijakan bahwa Surat Al-Hajj memiliki keistimewaan dengan dua ayat sajdah. Ulama salaf memaknainya sebagai perintah komprehensif bagi orang beriman: padukanlah antara mendirikan salat dan sujud (habluminallah) dengan berbuat kebajikan agar bermanfaat bagi manusia lain (habluminannas). Itulah kunci utama keberuntungan (falah).

8. Surat Al-Furqan [25] ayat 60

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَٰنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا ۩

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang’, mereka menjawab: ‘Siapakah Yang Maha Penyayang itu?…”

Asbabun Nuzul ayat ini erat kaitannya dengan kesombongan kaum musyrikin Makkah. Saat Rasulullah mendakwahkan nama “Ar-Rahman”, para tokoh Quraisy angkuh menolak dan mengklaim hanya tahu tokoh bernama sama dari Yamamah (Musaylimah Al-Kadzdzab). Mujahid mengomentari bahwa keengganan bersujud ini adalah penyakit hati (kibr) yang membuat jiwa mereka liar menjauh dari hidayah.

9. Surat An-Naml [27] ayat 26

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ۩

“Allah, tiada Tuhan Yang berhak disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ‘Arsy yang besar.”

Secara historis, ayat ini adalah kelanjutan ucapan burung Hud-hud kepada Nabi Sulaiman AS tentang Ratu Saba’ yang menyembah matahari. Ini adalah penegasan tauhid Uluhiyyah dan Rububiyyah. Sangat tidak pantas makhluk bersujud kepada ciptaan, karena sujud adalah hak absolut Allah, Penguasa tunggal atas ‘Arsy.

10. Surat As-Sajdah [32] ayat 15

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ۩

“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Tuhannya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.”

Qatadah menjelaskan bahwa respons spontan orang beriman mendengar peringatan Al-Qur’an adalah menundukkan ego. Kata Kharru bermakna “menyungkur/jatuh”, menunjukkan ketundukan total yang menghapus kesombongan hati.

11. Surat Fushshilat [41] ayat 38

فَإِنِ اسْتَكْبَرُوا فَالَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ يُسَبِّحُونَ لَهُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَهُمْ لَا يَسْأَمُونَ ۩

“Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.”

Hasan Al-Bashri memberikan hikmah tajam: Allah tidak butuh sujudnya manusia. Jika manusia angkuh, Allah telah memiliki hamba-hamba cahaya (malaikat) tak terhitung jumlahnya, yang ibadahnya jauh lebih suci, terus bertasbih tanpa henti dan tanpa disentuh rasa bosan.

12. Surat An-Najm [53] ayat 62

فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا ۩

“Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).” Berdasarkan riwayat Al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud, ini adalah surat dengan ayat sajdah pertama yang turun di Makkah. Saat Nabi ﷺ membacakannya di pelataran Ka’bah, auranya begitu magis dan dahsyat. Seluruh muslim, kaum musyrikin, hingga jin spontan tersungkur sujud. Bahkan ada tokoh musyrik tua yang enggan/tak mampu membungkuk, mengambil segenggam tanah lalu menempelkannya ke dahi agar terlihat “sujud”, nama tokoh tersebut adalah Umayyah bin KHalaf. Hal ini bukti kuatnya pengaruh Al-Qur’an. Nabi ﷺ pun berpesan, jika kita ingin dekat dengan beliau di surga, perbanyaklah sujud.

13. Surat Al-Insyiqaq [84] ayat 21

وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ ۩

“Dan apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka tidak bersujud.”

Sufyan ats-Tsauri melihat ayat ini sebagai celaan keras bagi hati yang membatu. “Tidak bersujud” bermakna ganda: menolak ketundukan fisik sekaligus menolak menundukkan rasio dan hawa nafsu di bawah hukum Al-Qur’an.

14. Surat Al-‘Alaq [96] ayat 19

كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِب ۩

“Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).”

Ayat ini turun spesifik menyikapi ancaman Abu Jahl yang ingin menginjak leher Rasulullah jika beliau bersujud di Masjidil Haram. Allah berfirman “Kalla laa tuthi’hu”, abaikan ancamannya dan teruslah bersujud. Abu Hurairah dan salaf memaknai wasjud waqtarib sebagai puncak kedekatan (taqarrub): semakin merendah seseorang ke tanah, semakin tinggi kedudukannya di sisi Allah.

Kategori II: Mustahab / Sujud Syukur (1 Ayat)

Kategori kedua ini tergolong Mustahab (dianjurkan/disukai), di mana para ulama mazhab Syafi’i mengklasifikasikannya bukan sebagai sujud tilawah mutlak, melainkan sujud syukur/taubat. Tetap disunnahkan membacanya di luar shalat, namun dianjurkan tidak bersujud jika menjadi imam shalat agar makmum tidak bingung.

Surat Shaad [38] ayat 24

… وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ ۩

“… dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat.”

Ayat ini menceritakan Nabi Daud AS yang menyadari bahwa perselisihan dua orang yang mengadu padanya adalah teguran/ujian Allah atas kesalahannya. Ibnu Abbas menegaskan bahwa ini adalah sujud syukur karena Allah menerima taubatnya, menjadi teladan umat Islam untuk bersegera bertaubat manakala menyadari kesalahan.

Dasar hukum pengklasifikasian ini merujuk pada hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu. Suatu ketika Ibnu Abbas ditanya mengenai sujud pada Surat Shaad, beliau menjawab dengan mengutip sabda Rasulullah ﷺ:

“Nabi Daud ‘alaihissalam melakukan sujud tersebut sebagai bentuk taubat, sedangkan kita bersujud (ketika membaca ayat ini) sebagai bentuk syukur (karena taubat Daud diterima).” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Ahmad)

Penutup

Jika Ayat ‘Azaim (14 ayat) memiliki konteks ayat yang berisi tentang perintah sujud kepada Allah, pujian bagi makhluk yang tunduk bersujud (seperti malaikat atau orang beriman), atau celaan bagi mereka yang enggan bersujud, sehingga sujud tilawah disyariatkan sebagai bentuk ketundukan mutlak kepada kebesaran Allah. Maka, Ayat Surat Shaad memiliki konteks murni tentang permohonan ampun dan diterimanya taubat seseorang. Karena Nabi ﷺ menyebutnya sebagai “sujud syukur” atas diampuninya Nabi Daud AS, maka status sujudnya berubah dari sujud tilawah (bacaan) menjadi sujud syukur (berterima kasih).

Semoga dengan memahami tadabur dan ilmu fiqih di balik 15 ayat sajadah ini, kita semakin mencintai sujud dan dapat melembutkan hati yang keras. Mari kita tutup majelis ilmu ini dengan doa, semoga Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai penaung kita di dunia dan di akhirat kelak.

اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا بِالْقُرْآنِ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا وَأَوْلَادَنَا مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.

Mari Bersama Membangun Pusat Adab Nasional

Pendidikan bukan hanya membangun gedung dan ruang kelas, tetapi membentuk peradaban berbasis adab dan keilmuan. Dengan semangat itu, Pusat Adab Nasional hadir untuk menjadi inspirasi dan motivasi bagi dunia pendidikan, agar bersama-sama bertransformasi menuju harapan besar mendapatkan akreditasi ‘A’ dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan, di mana setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Di antara amal yang paling utama adalah bersedekah di hari Jumat.

“Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi)

Maka, di hari yang penuh berkah ini, mari bersama kita hadirkan Proyek Surga: Hadiah Pendidikan yang Abadi , membangun Pusat Adab Nasional sebagai wujud kepedulian terhadap pendidikan berbasis adab bagi generasi mendatang

Bank Syariah Indonesia (BSI)
No rek : 2171 7000 36
an : Yayasan Adan Insan Mulia

DKI Syariah
No rek : 7102 1700 003
an : Wakaf Adab Insan Mulia


WidoSupraha.Com

▫️ Web: WidoSupraha.Com
▫️ Telegram: t.me/supraha
▫️ FB: fb.com/suprahawido
▫️ IG: instagram.com/supraha
▫️ Twitter: twitter.com/supraha
▫️ YouTube: youtube.com/supraha
▫️ WA: https://chat.whatsapp.com/IRr5xEgVz5DBcxftSG0Pyp

Admin: wa.me/6287726541098

Tinggalkan komentar