Lanjut ke konten

Urgensi Berpikir dalam Islam

Berpikir adalah pekerjaan yang bernilai ibadah. Banyak manusia yang tidak mau atau tidak sempat berpikir. Boleh jadi di antara alasannya adalah karena kebanyakan dianggap pasti kebenaran, atau karena telah terjebak pada rutinitas yang tidak menyempatkannya untuk berpikir, atau boleh jadi ada kekhawatiran banyak berpikir mendalam akan berdampak buruk bagi jiwanya.

Sejatinya, berpikir mendalam adalah bagian dari perintah agama. Banyak yang menolak diksi filsafat karena dianggap milik Yunani, padahal esensi dari filsafat adalah berpikir. Ketiadaan pemikiran awal runtuhnya peradaban, dan karena tiada peradaban kecuali berawal dari pemikiran.

Tanpa adanya proses berpikir hingga mendalam, tidaklah seorang jahil dapat menempati posisi faqih. Oleh karenanya seluruh proses menuju derajat faqih, tafaqquh, akan melewati serangkaian proses berpikir yang rumit karena menuju komprehensifitas. Banyak yang tidak kuat dan menyenanginya, kecuali sedikit manusia yang semoga dicatat Allāh dengan banyak kebaikan dan mendorongnya kepada posisi min ahl al-khair.

Allāh berfirman dalam surat At-Taubah [9] ayat 122:

۞وَمَا كَانَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةٗۚ فَلَوۡلَا نَفَرَ مِن كُلِّ فِرۡقَةٖ مِّنۡهُمۡ طَآئِفَةٞ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي ٱلدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوۡمَهُمۡ إِذَا رَجَعُوٓاْ إِلَيۡهِمۡ لَعَلَّهُمۡ يَحۡذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Rasulullāh Muhammad ﷺ pernah bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

Barangsiapa yang dikehendaki Allāh mendapatkan kebaikan, maka dijadikan ia fakih dalam agama.

[HR. Al-Bukhari No. 71 dan Muslim No. 1037]

Tidak ditemukan pelajaran untuk ‘mengosongkan pikiran’ dalam Islam. Seluruh waktu yang diberikan Allah dalam kehidupan manusia didorong untuk diisi dengan berpikir tentang Allāh dan ciptaan-Nya (makhluk-Nya). Allāh ﷻ berfirman dalam surat Ali ‘Imrān [3] ayat 191:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Yaitu orang-orang yang mengingat Allāh sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Banyak manusia yang senang dalam menegakkan ibadah ritual seperti shalat malam, bahkan semalam suntuk, namun tidak semua manusia siap untuk berpikir mendalam meski hanya sesaat. Padahal, sedemikian pentingnya berpikir, keutamaannya diyakini para ‘alim ‘ulama lebih baik dari panjangnya shalat malam.  Beberapa perkataan motivasi dalam berpikir yang dapat dinukil, sbb.:

Dari Abu Hurairah r.a.,

لأن أفقه ساعة أحب إلي من أن أحيي ليلة أصليها حتى أصبح

Sungguh belajar sesaat lebih aku cintai daripada aku habiskan semalaman untuk shalat sampai Subuh.

لأن أعلم باباً من العلم في أمر أو نهي أحب إلي من سبعين غزوة في سبيل الله عز وجل

Sungguh memahami sebuah masalah ilmu baik dalam masalah perintah ataupun larangan, lebih aku cintai dari pada 70 kali perang di jalan Allah.

 

Dari Ibn ‘Abbās r.a.:

تفكر ساعة خير من قيام ليلة

Berfikir sesaat lebih baik dari pada shalat semalaman.

[al-Adzamah, 1/297]

تذاكر العلم بعض ليلة أحب إلي من إحيائها

Mempelajari ilmu di sebagian malam lebih aku sukai daripada menghabiskan seluruh malam untuk shalat.

[Mushannaf Abdurrazaq, 11/253]

 

Dari Abu Musa al-Asy’ari r.a.:

لمجلس أجلسه مع عبد الله بن مسعود أوثق في نفسي من عمل سنة

Sungguh duduk bermajelis bersama ‘Abdullah Ibnu Mas’ud lebih menenangkan jiwaku daripada beramal setahun.

 

Dari Abu Dardā r.a.,

مذاكرة العلم ساعة خير من قيام ليلة

“Mengkaji ilmu meski sesaat lebih baik daripada pada shalat malam.”

 

Dari Hasan al-Bashri:

لأن أتعلم باباً من العلم فأعلمه مسلماً أحب إلي من أن تكون لي الدنيا كلها أجعلها في سبيل الله عز وجل

Sungguh memahami satu cabang ilmu, kemudian kuajarkan kepada muslim yang lain, lebih aku sukai dari pada aku memiliki dunia seisinya. Aku niatkan sebagai amal fi sabilillāh.

 

Dorongan kepada Muslim untuk senang berpikir inilah yang menjadi pintu gerbang terbukanya segala sesuatu tentang realitas (al-ma’lum). Berkembanglah kemudian ilmu pengetahuan dan teknologi. Bagaimana kemudian korelasi berpikir mendalam ini dengan tumbuh kembang sains hingga kepemimpinan Muslim atas sains dunia di abad ke-8 M akan dibahas pada tulisan kami berikutnya. Wallāhu a’lam bi ash-shawāb.

Pertanyaan dapat diajukan melalui: suprahawido@gmail.com, dan jawaban akan disampaikan di Channel Dialog Islami: https://chat.whatsapp.com/IFvHr8kiLHuBtmuIZDc8Tj
__
💠 Facebook: facebook.com/wido.supraha
📷 Instagram: instagram.com/supraha
🐦 Twitter: twitter.com/supraha
📠 Telegram: telegram.me/supraha
🎥 Youtube: youtube.com/supraha

Iklan

One thought on “Urgensi Berpikir dalam Islam Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: