Lanjut ke konten

Khutbah ‘Idul Fithri 1443 H | Lahirkan Generasi Beriman dan Beradab

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ وَحْدَهُ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ.

اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى حَبِيْبِنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ وَاسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ وَاهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَ جَاهَدَ فِي سَبِيْلِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدَهُ فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كَتَابِهِ الْكَرِيْمِ وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَـائِلِيْنَ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ :

﴿ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَاتَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ﴾

Allāhu Akbar 3x, wa lillāh al-hamd.

Pagi ini, kita berkumpul di bawah cerahnya mentari, setelah menjalankan salah satu program kerja seorang Mukmin, puasa Ramadhan sebulan penuh. Taqabbalallāhu minnā wa minkum, Ya Allah, Terimalah seluruh kelelahan dalam keikhlasan kami, catatlah kami sebagai pemenang, dan panggillah nama-nama kami yang hadir pagi ini, saat engkau membuka pintu Jannah-Mu.

Pagi ini, kita menyadari bahwa tidak ada kesuksesan tanpa pengorbanan. Sebulan penuh kita tidak saja menahan diri dari makan, minum dan jima’, namun juga menahan diri dari ghibah (bergunjing), perselisihan, kedustaan, dan berbuat kezhaliman.

Pagi ini, kita akhirnya memahami bahwa di balik setiap kebahagiaan ada konsistensi dalam kebiasaan-kebiasaan baik. Jiwa-jiwa kita mulai terbiasa beristighfar di waktu Sahur, berbagi bukaan kepada sesama, dan menikmati makna kata demi kata yang dibacakan Imam saat Shalat Tarawih dan Tahajjud.

Allāhu Akbar 3x, wa lillāh al-hamd.

Ramadhan telah menguatkan iman dan adab manusia dengan seperangkat program kehidupan yang telah disiapkan oleh Allah SWT, agar paska Ramadhan, kita semakin serius dan sungguh-sungguh untuk menjadi generasi yang beriman dan beradab.

Generasi beriman bukanlah sekedar generasi yang percaya bahwa Tuhan itu ada, tapi tidak mau hidup dengan bimbingan Tuhan, karena generasi ini hanyalah generasi teistik agnostik. Generasi beriman adalah generasi yang jiwanya telah damai dan tenang dengan kebenaran dan keilmiahan seluruh konsepsi Islam tentang peri kehidupan yang bermuara pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Melaksanakan puasa Ramadhan barulah satu perintah-Nya kepada orang-orang yang beriman sebagaimana Surat Al-Baqarah [2] ayat 183-188. Masih ada 88 perintah lainnya kepada orang-orang yang beriman di dalam Al-Qur’an yang diawali dengan seruan: Yaa Ayyuhalladzina Aamanu, di antaranya:

  • Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya (8:20)
  • Sambutlah seluruh ajakan Allah dan Rasul-Nya yang akan membuat hidupmu lebih hidup (8:24)
  • Janganlah engkau mengkhianati Allah dan Rasul-Nya (8:27)
  • Janganlah mengolok-olok Nabi (2:104)
  • Jika engkau ada masalah mintalah tolong hanya kepada-Nya dengan Shalat dan Sabar (2: 153)
  • Makanlah makanan yang tidak saja halal, tapi juga menyehatkan tubuhmu (2:172)
  • Masuklah ke dalam Islam ini secara totalitas, jangan setengah-setengah dan jangan ikuti langkah-langkah syaithan (2:208)
  • Jangan ungkit-ungkit lagi kebaikan-kebaikanmu di masa lalu (2:264)
  • Tinggalkanlah segera riba dan mulailah terbiasa dengan aktifitas perdagangan dan jual beli yang berkah (2:278)
  • Tegakkanlah adab dan tanamkan ilmu kepada diri dan keluargamu (66:6)
  • Dan seterusnya.

Maka paska Ramadhan, rawatlah setiap amal shalih yang telah kita mulai, dan sempurnakanlah seluruh perintah-perintah-Nya yang belum kita laksanakan, agar keimanan kita terus bertambah-tambah. Semoga Allah SWT memudahkan kita melaksanakan seluruh amalan orang-orang beriman sebelum kematian menjemput kita.

Allāhu Akbar 3x, wa lillāh al-hamd.

Adapun generasi beradab adalah generasi yang terbiasa menikmati kedisiplinan dalam kebiasaan-kebiasaan baik sesuai bimbingan Islam yang meliputi kedisiplinan akalnya, jiwanya dan jasadnya. Dengan demikian generasi beradab bukanlah sekedar generasi yang punya sopan santun dan tata krama, melainkan generasi yang cerdas akalnya, bersih jiwanya, dan kuat jasadnya dan sangat bersemangat melahirkan amal shalih mengejar keridhan Allah SWT menuju kembalinya peradaban Islam yang gemilang.

Pesan Nabi SAW (HR. al-Hakim no. 7679), tidak ada pemberian terbaik dari seorang Ayah kepada anak-anaknya kecuali ketika sang Ayah fokus menanamkan adab-adab baik kepada mereka. Didiklah dirimu, istrimu dan anak-anakmu seluruhnya sebagai generasi yang beradab dengan kurikulum Al-Qur’an, sebaimana pesan Nabi dalam ad-Darimi no. 3173:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ مَأْدُبَةُ اللَّهِ فَخُذُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ فَإِنِّي لَا أَعْلَمُ شَيْئًا أَصْفَرَ مِنْ خَيْرٍ مِنْ بَيْتٍ لَيْسَ فِيهِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ شَيْءٌ وَإِنَّ الْقَلْبَ الَّذِي لَيْسَ فِيهِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ شَيْءٌ خَرِبٌ كَخَرَابِ الْبَيْتِ الَّذِي لَا سَاكِنَ لَهُ

Sesungguhnya Al-Quran ini adalah jamuan adab dari Allah, maka ambillah darinya semampu kalian. Sungguh, aku tak mengetahui sesuatu yg lebih kosong dari kebaikan selain rumah yang di dalamnya tak ada bacaan Al-Quran. Sungguh, hati yg di dalamnya tak ada bacaan Al-Quran adalah hancur seperti hancurnya rumah yang tak berpenghuni”.

Memulai usaha mewujudkan generasi beradab adalah dengan menjadikan Al-Qur’an dan seluruh kandungan narasinya sebagai sumber berpikir kita. Ramadhan bukan sekedar bulan diturunkannya Al-Qur’an, tapi juga telah menjadi bulan yang membiasakan kita untuk membaca Al-Qur’an tidak saja mengejar target khataman dan hafalan, namun lebih mendalam lagi, sebagaimana hadits sebelumnya, bagaimana Al-Qur’an bersemayam dalam jiwa kita, masuk ke dalam kerongkongan kita, tidak hanya sekedar berhenti di bibir saja.

Kecintaan akan Al-Qur’an inilah yang telah mengkondisikan bersujudnya lebih dari 1,7 milyar penghuni bumi hari ini. Sekitar 1433 tahun lalu, seluruh muslim yang ikut dalam kafilah Haji Wada bersama Rasulullah SAW pada tahun ke-10 Hijrah, hanya berjumlah 100.000 sampai 125.000 jiwa. Jumlah itu setara 1 per 1000 dari total penduduk bumi ketika itu, yang berjumlah sekitar 100 juta jiwa.

Secara merata, dapat dikatakan bahwa setiap 100 tahun, atau 1 abad, jumlah umat Islam bertambah hampir sekitar 100 juta jiwa, atau sekitar 1 juta pertahun, atau sekitar 3000 orang setiap hari. Jika perbandingan antara penduduk Muslim dengan penduduk bumi di zaman Rasulullah SAW adalah 1 per 1000, maka perbandingannya hari ini adalah 1 per 5. Jadi sekitar 23% penghuni bumi ini adalah muslim, sebagaimana penelitian Pew Research per 2010.

Ini sungguh fakta sejarah yang luar biasa. Bahwa populasi pemeluk agama ini terus bertambah di tengah seluruh upaya musuh-musuhnya untuk menghancurkannya dengan berbagai cara. Lihatlah bagaimana dendam orang-orang Persia yang kalah, berujung dengan pembunuhan Umar bin Khattab. Lihatlah bagaimana pasukan Tartar menghancurkan Baghdad pada abad ke-V H. Lihatlah bagaimana pasukan Salib pernah menduduki Palestina selama lebih 90 tahun. Lihatlah bagaimana Eropa kembali menjajah hampir seluruh Dunia Islam sejak abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-20 M, termasuk Indonesia yang dijajah Belanda lebih 350 tahun dan Aljazair yang dijajah lebih dari 125 tahun. Tapi agama ini terus bertumbuh dan berkembang. Pemeluknya terus bertambah tanpa henti.

Bahkan 10 tahun yang lalu, tepatnya 30 Maret 2008, sumber resmi Vatikan, Msgr. Vittorio Formenti, Kepala Statistik, mengeluarkan sebuah pernyataan resmi bahwa jumlah pemeluk agama Islam di seluruh dunia sudah lebih banyak dari pemeluk agama Katolik yang hanya berjumlah 17%.

For the first time in history, we’re no longer at the top. The Muslims have surpassed us.

Walaupun jumlah umat Kristiani tetap lebih banyak jika disatukan, yaitu sebesar 33%, tapi Vatikan meyakini bahwa jumlah pemeluk Islam akan terus bertambah dan akan mengalahkan jumlah seluruh umat Kristiani dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Allāhu Akbar 3x, wa lillāh al-hamd.

Misi umat Islam bukanlah sekedar kuantitas tapi juga kualitas. Hari ini kita merasakan bahwa gelombang islamofobia (ketakutan kepada konsep-konsep Islam) justru datang dari kaum muslimin sendiri, terkhusus mereka yang tidak dididik dengan adab-adab Islam sejak kecil, terkhusus mereka yang mungkin dibiarkan dalam cara berpikir kelompok sekularisme, liberalisme dan pluralisme agama, termasuk atheisme, feminisme dan kapitalisme.

Islam menguatkan konsep jenis kelamin (sex), namun sekelompok kaum muslimin justru membesarkan konsep gender atau orientasi seksual yang boleh berbeda dari jenis kelaminnya, dengan dikuatkan pondasinya melalui UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TP-KS) yang disahkan justru di bulan Ramadhan 1443 H yang suci ini, dan perjuangan mereka selanjutnya adalah RUU Kesetaraan Gender.

Islam menguatkan pernikahan dan ketahanan keluarga, menjauhkan perzinahan, namun sekelompok kaum muslimin justru ikut-ikutan membesarkan konsep berparadigma sexual consent atau hubungan bebas selama suka sama suka, sehat dan bertanggung jawab, yang diimplementasikan dalam seperangkat aturan formal.

Di sisi lain, kita menyaksikan sendiri diluluskannya Doktor Syariah oleh sistem yang dibangun UIN Yogyakarta yang melegalisasikan perzinahan dengan konsep Milkul Yamin. Bahkan baru-baru ini, di bulan Ramadhan yang mulia ini, kita menyaksikan seorang Rektor atau Profesor secara gagah berani menyatakan bahwa jilbab adalah penutup kepala manusia gurun.

Terdapat segudang kenyataan yang hari ini membuat kita tidak habis berpikir, mengapa di puncak-puncak karir seseorang justru jatuh pada kesesatan berpikir dan semakin jauh dari nilai-nilai Islam.

Ramadhan mengingatkan kita untuk semakin seirus mendidik generasi Indonesia di masa depan. Pendidikan bukan alat mencari nilai dan gelar. Pendidikan juga bukan sekedar untuk melahirkan tenaga kerja (labor) dan warga negara yang baik (a good citizen).  Al-Qur’an menegaskan bahwa pendidikan adalah usaha melahirkan manusia baik (a good man), pemimpin peradaban (khalifatun fil ardhi), dan penegak Islam (iqamatuddin).

Sangat tidak benar persepsi yang dibangun bahwa Al-Qur’an adalah sumber radikalisme, intoleransi dan terorisme. Kurikulum Al-Qur’an adalah kurikulum yang membangun sosok berkapasitas lengkap, ulama yang saintis, saintis yang ulama. Kurikulum yang tidak mendikotomikan antara agama dan sains. Kurikulum yang mempersepsikan dunia sebagai satu-satunya kesempatan dan modal untuk meraih Akhirat yang terbaik.

Di tengah berbagai ujian yang mendera kaum muslimin, baik penjajahan pemikiran (pertarungan wacana/ghazwul fikr) maupun penjajahan fisik sebagaimana yang terus berlangsung di Palestina oleh negara ilegal Zionis Israel la’natullahi ‘alaih, selalu ada jalan-jalan keluar menuju kemenangan. Bersama kesulitan ada kemudahan, inna ma’al ‘usri yusra.

Bersatulah dan hindari perpecahan. Tidak ada kemenangan Islam tanpa kekuatan, tidak ada kekuatan tanpa ukhuwah, tapi jangan bicara ukhuwah jika tidak ada cinta di antara kita.

Allāhu Akbar 3x, wa lillāh al-hamd.

Kita berada di persimpangan sejarah.

Dunia membutuhkan manusia-manusia baru yang telah ditempa dalam madrasah Ramadhan. Manusia-manusia baru yang datang dengan tekad seorang pahlawan untuk mengubah seluruh tangis penjajahan menjadi mimpi peradaban yang menggelorakan, menjadi cinta yang mempersaudarakan dan menyatukan langkah, menjadi energi yang melahirkan kerja keras yang tak kenal lelah.

Dunia membutuhkan manusia-manusia baru, yang memiliki kepercayaan diri seperti nabi Luth a.s. saat terus berusaha menyadarkan kaumnya yang terjebak dengan penyakit jiwa LGBT (Lesbianisme, Gay, Biseksual dan Transgender).

Dunia membutuhkan manusia-manusia baru, yang keikhlasannya menyatu dengan kecerdasannya, yang firasatnya menyatu dengan pengetahuannya, yang tekadnya menyatu dengan peta jalannya, yang langkah kakinya sejauh pandangan matanya, yang kerja kerasnya menyatu dengan inovasinya.

Dunia membutuhkan manusia-manusia baru, yang dapat menyatukan lidi-lidi yang berserakan menjadi sapu, mengurai kerumitan masalah menjadi kerangka kerja yang terang benderang, yang mengubah setiap perkumpulan menjadi arus yang mengalirkan energi dan potensi umat kepada muara peradaban.

Dunia membutuhkan manusia-manusia baru, yang dapat membawa ruh masjid ke pasar-pasar, ke jalan-jalan, ke sekolah-sekolah, dan ke dalam kantor-kantor pemerintahan. Tiga pilar masjid sebagai pusat ibadah, pusat pendidikan, dan pusat sosial harus terus ditegakkan bersama-sama. Masjid bukanlah pusat perpecahan dan pusat pertikaian. Masjid adalah pusat persemaian iman dan adab.

Inilah alasan utama mengapa ketika hijrah ke kota Yatsrib, Nabi Muhammad SAW pertama kali membangun masjid sebelum memikirkan dimana beliau akan tinggal. Karena dari masjid-lah beliau meletakkan pondasi iman dan adab, dan dilanjutkan dengan membangun persatuan di kalangan orang-orang beriman, dilanjutkan dengan membangun ekonomi umat, dilanjutkan dengan persatuan sebangsa, dilanjutkan dengan persatuan sedunia. Kerja panjang dan sabar Nabi SAW berbasiskan masjid berhasil melahirkan generasi-generasi beradab, sehingga 10 tahun kemudian, kota Yatsrib yang bermakna tercela, dosa, atau kesalahan itu pun diganti menjadi Madinah al-Munawwarah (Kota Besar yang Terang Benderang). Setiap kota yang mayoritas penduduknya telah berhasil disadarkan bahwa mereka punya hutang kepada Allah SWT setelah memahami konsep Ad-Din, kota itu layak disebut sebagai Madinah. Generasi yang merasa berhutang kepada Allah inilah cikal bakal generasi penegak Tamaddun (peradaban).

Jauh sebelum Indonesia merdeka, para sultan dan raja di Nusantara bersama rakyatnya berjuang melawan penjajah dari Eropa. Kita kenal pangeran Diponegoro yang dengan gagah perkasa melakukan perlawan di Jawa. Beliau adalah keturunan raja yang santri. Demikian juga para pengikutnya, seperti Kyai Mojo. Kita kenal pula sosok seperti Teuku Umar, Cut Nyak Din dan Cik Di Tiro dari Aceh. Kita kenal Imam Bonjol dari Padang, KH Zainal Mustofa dari Tasikmalaya, Ahmad Lessi atau Pattimura seorang bangsawan dari Kerajaan Islam Sahulau, Maluku, dll. Semua adalah pejuang dan aktifis Islam.

Di awal-awal kemerdekaan, kita kenal Jenderal Soedirman pendiri Tentara Nasional Indonesia. Beliau adalah guru agama, seorang ulama yang kharismatis. Pengorbanannya untuk Indonesia tak ada cacatnya. Kita juga kenal Mohammad Natsir, yang dengan mosi integralnya berhasil mengembalikan Indonesia dari negara federal menjadi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).

Allah SWT berfirman dalam surat Al-A’raf [7] ayat 96:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.

Saudara-saudara sekalian, semoga Allah menjadikan kita sebagai manusia-manusia baru itu. Semoga Allah menjadikan kita sebagai sebab kebangkitan dan kejayaan umat ini, sebagaimana doa Nabi Ibrahim a.s.:

رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيمِ

(Ibrahim berdo’a): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mendapatkan surga yang penuh keni’matan.” (As-Syu’ara: 83-85).

Allāhu Akbar 3x, wa lillāh al-hamd.

Generasi pemenang terlihat dari pilihan untaian kalimat dalam do’a-do’a panjangnya. Mereka lebih memilih untuk memohon sesuatu yang besar dan mencakup hajat hidup orang banyak daripada sekedar permintaan untuk kepentingan dirinya sendiri. Hal ini karena do’anya untuk umat tentunya akan memasukkan dirinya juga sebagai bagian di dalamnya, sementara do’anya untuk dirinya sendiri tentu belum memasukkan umat di dalamnya.

Mari kita tundukkan hati dan pikiran kita bermunajat kepada-Nya, semoga Allah menetapkan seluruh yang hadir hari ini tidak saja tercatat sebagai Generasi Ramadhan, namun juga dicatat-Nya sebagai Manusia Baru, Generasi Rabbani, Generasi Pemenang, Generasi yang melanjutkan seluruh kebaikan yang telah kita mulai sampai Allah wafatkan kita pada titik kebaikan terakhir yang kita telah disibukkan dengannya.

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف المرسلين وعلى آله وصحبه أجمعين برحمتك يا أرحم الراحمين …

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ…

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ…

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَتَضَرُّعَنَا وجميع أعمالنا

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَانْصُرِ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ…

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ…

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ…

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين

واَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وبركاته

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، والحمد لله رب العالمين

تقبل الله مناومنكم تقبل ياكريم جعلناالله واياكم من العائدين والفائزين وادخلنامن زمرةالمتقين المخلصين

🌺أعاده الله علينا وعليكم بالخير  والبركاتكل عام وانتم بخير

عيد مبارك. والسلام عليكم ورحمة وبركاته

https://www.instagram.com/supraha/
🐦 https://twitter.com/supraha
⌨️ https://t.me/supraha
🌐 https://widosupraha.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: