Lanjut ke konten

Kasih Sayang Sanak Keluarga (Al-Mawaddah fi al-Qurba)

Al-Mawaddah fi al-Qurba
Oleh: Dr. Wido Supraha (Direktur Institut Adab Insan Mulia)

Fitrah manusia diciptakan dengan kecintaan kepada nasabnya. Oleh karenanya ia akan berusaha menelusuri asal usulnya dan mendokumentasikannya semampu yang ia bisa lakukan. Demikian pula halnya dengan Rasulullah SAW sebagai sebaik-baik teladan kita dalam kehidupan.

Rasulullah SAW sangat memperhatikan kejelasan nasabnya dan merawat kasih sayang di antara sanak keluarga beliau dalam satu nasab. Beliau diajarkan Allah SWT tentang al-Mawaddah fi al-Qurba. Terkait hal ini, Allah SWT berfirman dalam surat Asy-Syura [42] ayat 23:

ذٰلِكَ الَّذِيْ يُبَشِّرُ اللّٰهُ عِبَادَهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِۗ قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا اِلَّا الْمَوَدَّةَ فِى الْقُرْبٰىۗ وَمَنْ يَّقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهٗ فِيْهَا حُسْنًا ۗاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ

Itulah (karunia) yang diberitahukan Allah untuk menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Dan barangsiapa mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan kebaikan baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Mensyukuri.

Bisa disebutkan bahwa hampir seluruh orang Arab dari Hijaz memiliki hubungan nasab dengan beliau. ‘Abdullah Ibnu ‘Abbas r.a. pernah menjelaskan perihal al-mawaddah fi al-qurba sebagaimana riwayat al-Bukhari no. 4818:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ قَوْلِهِ: {إِلَّا المَوَدَّةَ فِي القُرْبَى} [الشورى: 23]- فَقَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ: قُرْبَى آلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: عَجِلْتَ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ بَطْنٌ مِنْ قُرَيْشٍ، إِلَّا كَانَ لَهُ فِيهِمْ قَرَابَةٌ، فَقَالَ: «إِلَّا أَنْ تَصِلُوا مَا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ مِنَ القَرَابَةِ»

Dari Ibn ‘Abbas radhiyallahu’anhuma, ketika beliau ditanya mengenai ayat ‘kecuali kasih sayang dalam qurbaa (kekerabatan)’. Sa’id bin Jubair menafsirkan ‘qurba’ dengan ‘keluarga Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam’.
Ibnu Abbas berkata: ‘Engkau terburu-buru dalam menafsirkan. Sesungguhnya tidak ada keturunan orang Quraisy kecuali ia memiliki kekerabatan dengan Nabi SAW. Maknanya adalah: ‘kecuali adanya keterkaitan antara aku dan kalian dalam kekerabatan‘.

Merawat nasab dengan demikian adalah hal yang utama karena akan menjelaskan asal keturunan kita. Tentunya nasab akan selalu terjaga selama dalam ikatan tali pernikahan yang sah. Akan pentingnya pernikahan yang sah dalam menjaga nasab ini disebutkan oleh Rasulullah SAW sebagaimana riwayat ath-Thabarani no. 4728:

خرجت من نكاح ، و لم أخرج من سفاح ، من لدن آدم إلى أن ولدني أبي و أمي ، لم يصبني من سفاح الجاهلية شيء

Aku lahir dari pernikahan dan tidaklah Aku dilahirkan dari perzinaan. Mulai dari Nabi Adam sampai pada ayah ibuku. Tidak ada kebejatan Jahiliyah sedikitpun dalam nasabku.

Bahkan Allah SWT menjadikan nasab Rasulullah SAW dari sebaik-baik keturunan di setiap zamannya sejak masa Nabi Adam a.s. Disebutkan dalam riwayat al-Bukhari no. 3557:

بعثت من خير قرون ابن آدم ، قرنا فقرنا ، حتى كنت من القرن الذي كنت فيه

Aku diutus dari keturunan bani Adam yang terbaik pada setiap kurunnya, hingga sampai pada kurun dimana aku dilahirkan.

Beliau SAW menjelaskan detail keturunan beliau sebagaimana riwayat Muslim no. 2276:

إنَّ اللهَ اصطفَى كِنانةَ من ولدِ إسماعيلَ . واصطفَى قريشًا من كنانةَ . واصطفَى من قريشٍ بني هاشمَ . واصطفاني من بني هاشمَ

Allah telah memilih Kinanah dari keturunan Isma’il, dan memilih Quraisy dari keturunan Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy, dan memilih aku dari keturunan Bani Hasyim.

Kejelasan nasab ini tentu sangat dibutuhkan dalam kehidupan seperti hal-hal yang terkait dengan pernikahan, warisan, dan aspek silaturrahim dan penghormatan. Tentu saja hal ini tidak mengarah pada kebanggaan pada nasab, karena telah jelas bahwa yang paling mulia di sisi Allah SWT sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Hujurat [49] ayat 13 adalah yang paling bertakwa:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Kemulian manusia ada pada ketakwaannya, dan ketakwaan dibangun di atas ilmu, oleh karenanya ilmu sebelum amal, dan bahwa setiap amal harus mengikuti ilmu. Apa-apa yang menjadi tradisi dalam sebuah keluarga harus tetap ditimbang dengan ilmu, karena belum tentu pembuat tradisi dari asal nasab kita membuatnya dengan ilmu. Dijelaskan hal ini dalam surat Al-Baqarah [2] ayat 170:

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَآ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.” Mereka menjawab, “(Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).” Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun, dan tidak mendapat petunjuk.

Nasab mendorong penghormatan dan sikap berbakti sebagai keturunan yang baik. Agama membimbing Muslim untuk tetap berbakti kepada orang tua dan keluarga, bahkan meski mereka mengajak kepada kekufuran, sebagaimana firman-Nya dalam surat Luqman [31] ayat 15:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan apabila keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan apa-apa yang tidak ada ilmu padanya, jangan taati keduanya dan bergaul lah dalam kehidupan dunia dengan perbuatan yang ma’ruf (baik) dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa-apa yang telah kamu kerjakan.

Bahkan kepada sahabat dekat orang tua kita pun, Islam membimbing untuk tetap merawat komunikasi baik dengan mereka. Dalam riwayat at-Tirmidzi no. 1825 disebutkan:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ أَبَرَّ البِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ. رواه الترمذي.

Dari Ibnu Umar r.a. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Sungguh sebaik-baik kebaikan adalah seseorang yang (mau) menyambung tali silaturahim dengan sahabat bapaknya.

Bentuk berbakti dan berbuat baik kepada mereka adalah selama berada dalam ketaatan, dan tidak dalam rangka memusuhi atau melemahkan kemuliaan dan martabat Islam. Disebutkan dalam riwayat Muslim no. 4742:

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat, taat itu hanya dalam perkara yang ma’ruf.

Namun jika keluarga kita bergerak memusuhi dan melemahkan Islam, maka sungguh kekuatan ukhuwah imaniyah pasti akan berada jauh di atas sekedar hubungan kekerabatan senasab.

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridla terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.

Sebagai penutup, kenalilah nasabmu sedetail mungkin, agar semakin luas wawasan persaudaraan senasab, dan semakin banyak peluang silaturrahim yang dapat dilakukan di atas muka bumi. Rawatlah cinta kasih kepada keluarga senasab, baik mereka beragama Islam ataupun kafir. Namun jangan sampai cinta kasih senasab mengalahkan cinta kasih seiman di kala di antara nasab kita ada yang bergerak memusuhi Islam dan secara nyata bergerak melemahkan dan menghinakan Islam beserta seluruh kemuliaannya. Semoga Allah SWT merawat hidayah kita dan mengumpulkan kita di Jannah beserta seluruh amal-amal shalih yang kita bangun di atas hidayah.

@supraha

Telegram: t.me/supraha
IG: instagram.com/supraha
Channel WA: https://chat.whatsapp.com/D91ZzlmbRGwJ7e3k97rHGu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: